Pulang #2

hai, apa kabar? berapa derajat suhu malam ini, di sana?

sedingin apapun malammu, di sana… aku tidak khawatir. sebab, lelaki hangat sepertimu tidak pernah lemah meski dingin menyerang. iya kan?

aku pinjam ruang ini sebentar, untuk menulis tentangnya, ya?

tentang dia, yang pernah kusayangi selama lebih dari lima puluh empat bulan. kamu tak perlu cemburu, kisah ini sudah selesai, aku hanya sedang mencoba kembali berdamai dengan kenangan yang akhir-akhir ini muncul dengan tega.

kisah ini tentu berbeda dengan kisahmu, dengan kekasihmu kala itu. dan aku tidak perlu membandingkannya.

aku tau semua temanku pasti paham, tulisan ini mengarah ke mana, ke siapa.

dia, yang datang dan pergi sesuka hati, dengan kalung biru, berdiri di dekat pintu. yang selalu bercanda menanyakan kepastian, tapi tak pernah sanggup kujawab meski dalam hati selalu riang mengiyakan.

di setiap sudut tempat yang aku benci itu, selalu ada bayang-bayangnya. lorong tempatku bertemu dengan si pembawa boneka beruang pink itu pun ada kenangan yang tidak pernah lenyap meski sudah sekian tahun aku tinggalkan. terlebih, di suatu tempat yang masih sering kudatangi saat ini, dulu adalah tempat favoritku untuk melihat dia, dari kejauhan.

sebab dulu penglihatanku masih waras, meski tanpa alat bantu, sejauh apapun dia berdiri, selama tidak ada pohon atau gedung yang menutupi, mataku selalu bisa menangkapnya. dan aku hanya bisa tersenyum kala itu, lalu buru-buru memalingkan muka, sebelum ia tangkap balik.

sebenarnya cerita-cerita ini awalnya memang sangat indah, sebelum aku merasakan patah hati terhebatku, untuk pertama kalinya.

tapi, sebenarnya lagi, di balik patah hati kala itu, muncul dendam positif pada diriku. aku harus bisa seperti dia, lolos snmptn! dan keinginan itu aku pegang teguh, aku usahakan, dan akhirnya aku dapatkan, dua tahun setelah kejadian itu.

senang, dan bahagia tentunya. sampai akhirnya aku kembali dekat dengannya, melalui masa-masa terakhir di Jogja sebelum akhirnya merantau dengan pesan “jangan gabung organisasi ini ya” yang secara tidak langsung memintaku untuk hati-hati di sana”, iya kan?

dan kenapa tiba-tiba kenangan ini muncul?

semua karena akun foodgrammer jogja, yang akhir-akhir ini review @maryannesice. aku awalnya bingung, itu bacanya gimana, kebingungan yang berujung kepo. setelah aku buka, ternyata itu akun Mary Anne!

makanya aku ingat kala itu, dia menawarkan diri untuk mentraktirku jajan, “mau Mary Anne apa Marry Me?”.

sesederhana itu.

walaupun pada akhirnya, tiga tahunan yang lalu justru denganmu-lah aku ke Mary Anne, kan? kita pesan menu sama, yang sama-sama bikin ngantuk setelahnya.

masih ingat ini? sepertinya tidak.

kisahku dan dia memang kisah yang rumit, tapi bisa diambil hikmahnya. seperti kata anak muda yang barusan nikah, “kalau cinta, dekati pemiliknya, bukan orangnya”. ya, kesalahanku saat itu adalah, tidak mengenal pemiliknya, dan justru terus mengejar dia… yang sedang lelarian sabtu-sabtu gerimis di GSP.

*menghela napas panjang*

sekarang, aku sudah melepas dia, se-lepas-lepasnya. sebab dia sudah mempunyai calon istri, dan aku pun harus segera menyelesaikan skripsi.

sampai, jumpa.

selamat istirahat.

(Visited 155 times, 1 visits today)

Leave a Reply